Parakerja.com - Kerja Untuk Setara

artikel

Mengapa Disabilitas Harus Bekerja?

 Sebagai sebuah platform untuk latihan kerja disabilitas, pertanyaan “mengapa disabilitas harus bekerja” sering dilontarkan. Di artikel kali ini, pertanyaan tersebut akan dijawab oleh berbagai pihak. Apa saja kata mereka?

Menurut Duta Disabilitas PBB Asia Pasifik, Sikdam Hasim Gayo, yang ditemui di Jakarta bulan November 2018 lalu, disabilitas harus bekerja agar mandiri, bisa hidup layak dan memenuhi kebutuhan sendiri, serta tidak tergantung pada orang lain. “Dengan bekerja, masyarakat dapat semakin yakin dengan kemampuan disabilitas. Buktikan kalau kita bisa, percaya pada diri sendiri, jangan mau dikasihani terus. Bukan berarti menjadi disabilitas lantas membuat kita tidak bisa. Jika saya bisa, semua pasti bisa.” Sikdam terlihat sangat bersemangat ketika membicarakan hal ini.

Sebagai tunanetra, Sikdam sudah melakoni banyak pekerjaan, terutama di bidang public speaking. Sikdam sering mengisi acara sebagai MC di acara-acara lokal, nasional, bahkan internasional.

Di tempat lain, Ketua Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) DPC Batam, Fachrizal, mengatakan bahwa  penyandang disabilitas harus bekerja sebagai pemenuhan hak hidup dan untuk mewujudkan kesetaraan. “Karena pada dasarnya, penyandang disabilitas memiliki kehidupan dan kebutuhan yang sama dengan non-disabilitas. Dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, bekerja adalah jawabannya.” Ujarnya saat ditemui di Disabilitas Centre, Batam, 31 Januari lalu.

Senada dengan yang disampaikan Fachrizal, seorang beauty vlogger pengguna kursi roda, Laninka Siamiyono, mengatakan bahwa penyandang disabilitas juga berhak mandiri secara ekonomi, dan hal tersebut bisa dilakukan dengan bekerja.

 Itulah pandangan dari para penyandang disabilitas, Parakerja juga menanyakan pertanyaan yang sama kepada non-disabilitas, dan ini jawaban mereka.

Kepala sekolah SLB Putrakami Batam, Hefrina, mengatakan bahwa potensi penyandang disabilitas harus terus digali. Setelah lulus dari sekolah, penyandang disabilitas harus tetap memiliki aktivitas agar memiliki hidup yang produktif dan bermakna. Dengan bekerja, ilmu keterampilan kerja dan pendidikan secara akademik dapat langsung diimplementasikan. “Ini adalah hal yang penting bagi kesehatan mental penyandang disabilitas itu sendiri. Bekerja akan membuat mereka seimbang”, ujar lulusan psikologi UII Jogjakarta ini.

Di lain pihak, Ilmi, wakil ketua Forum Komunikasi Keluarga Anak Dengan Kecacatan (FKKADK) DPC Batam, yang memiliki anak tunadaksa, mengatakan bahwa penyandang disabilitas tidak akan selamanya bersama keluarganya, sehingga ia tidak bisa selalu bergantung kepada orang lain. Bekerja adalah hal yang harus dilakukan agar bisa menjadi pribadi yang mandiri. “Saya ingin anak saya nanti bisa bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, dan menjadi contoh bagi penyandang disabilitas lain bahwa memiliki keterbatasan bukan berarti tidak bisa.” Ujarnya. (*) -rac